Loading...

Sunday, July 11, 2010

Lebih Baik Saya Hidup Berkecukupan!

Hidup dalam era dan negara dimana apa yang dilihat dan didengar sehari - hari adalah nyanyian - nyanyian cengeng para pelaku industri musik berponi simetri adalah sesuatu yang sangat membosankan. Bukan saja membosankan, tetapi juga sangat menyebalkan dan terkadang menimbulkan perasaan ingin berbuat sesuatu untuk memberontak. Apakah tidak bosan, kalau pertama kali ketika anda bangun tidur, di radio sudah berputar lagu - lagu sedih konyol tentang pacar yang selingkuh atau bagaimana sedihnya patah hati?

Oke, adalah hak semua orang untuk mengeluarkan aspirasi mereka. Dan, memang tidak ada salahnya untuk berkarya. Tetapi berdasarkan dari apa yang telah saya perhatikan selama ini, saya bingung apakah sebenarnya mereka berkarya, berdagang, atau berpose? Coba kalau anda mau bukti konkret, nyalakan saja layar televisi anda. Disana ada puluhan pelaku - pelaku musik the so called mainstream tanah air tampil dengan gemerlap nya seolah - olah mereka telah menjadi rockstar papan atas. Kiss my ass, bitches!  Kalau anda perhatikan dari band ke band, seperti ada sebuah kemonotonan antara mereka semua. Dengan rata - rata lagu yang bertema patah hati, putus cinta, selingkuh, nada - nada minor sederhana dan vokal yang hampir seperti orang yang akan menangis akan cukup membuat siapa saja yang menurut saya waras, langsung mematikan televisi mereka. Bahkan membantingnya kalau perlu. 

Tetapi memang susah kalau sudah ada mindset dan pola berpikir banyak orang di tanah air yang sepadan dengan ideologi band - band tersebut. Atau mungkin masalah selera? Saya juga masih banyak bertanya pada diri saya sendiri. Apa sebenarnya yang memicu keadaan jadi seperti sekarang ini. Atau mungkin apa yang dinyanyikan band - band tersebut adalah justru cerminan dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang selalu senang dengan cerita - cerita pop manis sederhana dan dayuan - dayuan hangat penyentuh hati mereka. Who knows? Dan, sejujurnya I don't give a fuck.

Kembali lagi ke masalah hak, kebebasan bersuara, dan demokrasi (katanya), memang merupakan hak mereka untuk melakukan apa saja, termasuk meracuni masyarakat dengan berbagai tembang - tembang top chart tangga lagu mereka. Dan, tentunya merupakan hak setiap orang untuk mendengarkan apa saja, termasuk  tembang - tembang populer seperti saat ini. Tetapi pastinya, saya sudah bosan. Bosan dan muak sepertinya. Yes, I'm very freaking pissed off.

Tapi, biarlah itu semua terjadi. Saya tidak akan mengekang kebebasan mereka. Saya juga punya dunia dan kehidupan sendiri. Tetapi yang pasti saya tidak akan tunduk mengkuti mereka. Terserah mereka kalau mau menjadi seorang yang dikenal seperti itu di seluruh tanah air. Bukan hak saya untuk mengecap mana yang benar dan mana yang salah. Malahan saya kedang berterima kasih, dengan ada fenomena seperti ini, timbul gejolak dan pergerakan dalam diri saya untuk berbuat sesuatu, bersuara, dan berkarya dengan ideologi saya sendiri untuk meng-counter semua ini dan menunjukkan bahwa kehidupan lebih dari sekedar patah hati dan diselingkuhi pacar. :p (terlalu idealis kedengarannya memang, tetapi persetan lah!) 

Dan perlu diingat juga kalau tulisan ini dibuat bukan untuk membunuh karakter atau memojokkan pihak - pihak tertentu, tetapi sebagai individu saya hanya memberi pandangan mengenai apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan sosial belakangan ini. Dan, berdasarkan indera penglihatan, pendengaran dan perasaan saya, apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan ..... SUCKS BIG TIME! 

Terlepas dari semua itu, saya tahu masih ada beberapa pelaku di industri musik yang bisa menunjukkan sebuah kecerdasan dan idealisme yang kuat. Mereka yang tidak mau tunduk pada selera pasar. Mereka yang don't give a shit dengan pikiran orang. Mereka yang berdedikasi tinggi, dan tidak hanya mau meraup keuntungan sebesar - sebesarnya melalui penjualan album atau pengaktifan ring back tone lagu mereka. Mereka lah yang menurut saya patut di apresiasi. Seperti sebuah kutipan perkataan seseorang yang pernah saya baca di majalah Ripple yang kurang lebih ia mengatakan bahwa setiap 1 tahun di Indonesia muncul 10 band jelek, dan setiap 10 tahun muncul 1 band bagus. Kurang lebih intinya seprerti itu. Jujur, saya lupa siapa yang mengatakannnya, tetapi saya ingat membaca ini di Ripple. Dan, saya pikir itu adalah faktanya di negeri ini. 

Hey, kalau menjadi kaya dan mapan itu adalah dengan menjadi figur - figur tolol memeras kesedihan di depan kamera, lebih baik saya hidup berkecukupan!

Currently listening : 

Pissed Jeans - Shallow














Buayasumur.

0 comments:

Post a Comment