Hal kelangkaan inilah yang juga sedang merasuki dunia musik, atau lebih tepatnya dunia distribusi musik di negeri ini. Sebuah hal yang dapat membuat para distributor, kolektor, dan tentunya penggemar musik dalam negeri semakin terpuruk dan dirugikan. Sehingga sanggup membuat setiap individu dari masing - masing kelompok di atas tadi untuk menanyakan kepada diri sendiri mengenai hal atau fenomena apa yang sedang terjadi. Mengapa harus ada perubahan yang tidak mengenakkan seperti ini? atau, apakah kiamat telah datang pada kita? Tetapi, sebagian besar dari mereka sudah dapat membaca dan mengetahui bahwa tragedi yang satu ini cepat atau lambat pasti akan datang harinya. Ironisnya, tidak ada pembaikan dan pemulihan dari hal ini, justru malah sebaliknya.
Penutupan Aquarius Pondok Indah beberapa waktu yang lalu tentu menjadi pukulan yang sangat berat bagi para pecinta musik, spesifiknya pecinta musik di Jakarta. Namun, tetap saja duka ini juga dirasakan oleh semua music junkie di dalam negeri. Hal ini karena, selama massa operasinya gedung yang pada nantinya hanya akan digunakan sebagai studio rekaman itu telah menjadi salah satu tempat paling favorit untuk dikunjungi bagi semua pihak yang mengabdikan dirinya bagi musik. Entah itu mencari sebuah album band favorit untuk melengkapi koleksi di rumah, mencari CD atau kaset terbaru sebagai hobi memburu rilisan, atau sekedar melihat - lihat artwork cover album dan membaca - baca tracklist di belakangnya sebagai pemenuhan hasrat pribadi walaupun tidak memiliki uang untuk membelinya. Aquarius Pondok Indah adalah sebuah rumah bagi mereka semua. Tempat dimana mereka dari lintas umur, genre, dan latar belakang yang berjumpa karena satu hal, yakni passion yang tinggi terhadap musik yang didengarkan. Sayangnya, seperti kebanyakan peristiwa epik lainnya dalam sejarah, 'kekaisaran' yang satu ini juga harus jatuh dan menghilang dari peradaban.
Sebenarnya ini bukan kali pertama pihak Aquarius menutup salah satu gerainya karena sejumlah faktor ekonomi. Sebelumnya Aquarius juga telah menutup salah satu 'kios' mereka di Jalan Sutomo, Surabaya. Dan, hampir bersamaan waktunya dengan itu, Aquarius mengakhiri 'dinasti' mereka di kota Bandung dengan menutup salah satu cabang paling legendaris dan klasiknya di Indonesia, yakni Aquarius Dago. Namun, dari semua kepunahannya, Aquarius masih mempertahankan salah satu perwakilannya bagi para pecinta musik, yaitu Aquarius Mahakan di daerah Mahakam/Bulungan, Jakarta Selatan. Saya masih bersyukur dengan keputusan pihak perusahaan dengan tidak menutup juga cabang yang terakhir ini. Semoga juga tidak akan
pernah mereka gulung tikar di sini.
Mungkin masih ada beberapa toko CD dan kaset di dalam negeri yang belum tumbang dan mampu untuk bertahan di derasnya badai industri musik saat ini. Namun, tetap saja beberapa kejadian yang terjadi belakangan ini tidak menunjukkan dan tidak memberikan ekspektasi yang positif bagi saya. Saya hanya bisa berharap mereka yang masih berdiri sampai saat ini dapat bertahan. Salah satu aksi konkretnya adalah dengan tetap membeli rilisan fisik tentunya. Memang saya sadari bahwa pasti sangat sulit bagi sebuah record store untuk survive di jaman yang kejam terhadap mereka seperti sekarang ini, terlebih mendapat untung yang besar.
Masalah utama yang saya amati selama ini adalah minat dan persepektif sebagian besar para penggemar musik saat ini. Sebagian besar dari mereka cenderung mengingkan segala sesuatu serba cepat dan praktis, tanpa memperhatikan estetika, apresiasi, dan nilai lebih dari yang didengarkan dan dinikmati. Saya ambil contoh penjualan dan disitribusi musik seperti CD dan kaset.
Dengan adanya internet sebagai sebuah instrumen dan sarana yang bebas tanpa batasan, kebanyakan orang cenderung mendapatkan musik mereka dari internet. Sebagian dengan cara legal, dan yang lainnya dengan cara ilegal. Dengan demikian hal ini akan berdampak pada penjualan fisik seperti CD dan kaset yang semakin drop dan menurun. Apalagi yang ilegal, tidak hanya merugikan distributor musik, tetapi juga berbagai pihak dalam proses pembuatannya, artis/band yang merupakan salah satu contoh paling konkret penerima kerugian. Hal inilah yang menurut saya menjadi salah satu sebab kehancuran distributor musik seperti Aquarius tadi. Karena, pastinya sebuah distributor musik juga harus memperhatikan berbagai macam biaya operasionalnya seperti biaya listrik, gaji karywan, maintenance, dsb. Sehingga, sebuah toko distribusi musik di era sekarang mungkin cenderung akan mengalami kerugian ketimbang beberapa dekade ke belakang dimana belum ada yang namanya download mp3 dari internet, atau CD berisikan puluhan file mp3 yang memuat berbelas - belas album di dalamnya dengan kualitas sangat buruk. Ya, di jaman itu (walaupun mungkin saya masih terlalu dini untuk mengingat) mendengarkan musik adalah sebuah pengalaman, sebuah experience. Dan, perasaan yang timbul setelah membeli CD atau kaset pertama-mu di toko adalah sesuatu yang tak terlupakan, tidak sabar untuk sampai rumah dan memutarnya berulang - ulang. Hingga pola ini berlanjut hingga pembelian - pembelian selanjutnya.
Sebenarnya mengapa minat manusia saat ini menurun drastis terhadap rilisan fisik? Beberapa hari yang lalu saya berbincang - bincang seputar hal ini dengan salah satu teman baik saya. Di akhir perbincangan kami menemukan beberapa hipotesis. Diantaranya seperti yang telah saya sebutkan di atas tadi bahwa pola hidup manusia sekarang yang cenderung menginkan sesuatu yang cepat dan praktis. Sehingga mengunduh file secara ilegal lah yang dikerjakan. Sebenarnya tidak ada yang salah menurut saya dengan mengunduh dan melakukan file sharing, sejauh yang di-download adalah sebatas sebagai sampel.
Tetapi bagi saya mendapatkan musik dengan cara mengunduh serasa kurang sempurna dan kurang utuh. Karena bagi saya pribadi, dengan membeli rilisan fisik yang orisinil dengan harga yang sedikit lebih, kita telah mendapatkan sebuah paket komplit dari album yang telah kita beli. Baik itu dari segi musik dengan kualitas sound asli, artwork utuh yang bisa dinikmati secara visual, packaging, dan ke-otentikan sebuah album. Tetapi ini semua kembali ke persepsi setiap orang dalam menikmati musiknya. Bisa saja mengunduh musik dahulu dari internet supaya mendapatkan gambaran seperti apa album yang akan diperoleh, baru setelah itu membeli rilisan aslinya dalam bentuk fisik. Kurang seru dan jadi sudah tahu seperti apa isi musik dalam album pada umumnya memang bila melakukan pola seperti itu, tetapi untuk jaman seperti saat ini, it's fair enough.
Hal lain yang kami temukan adalah bahwa kemampuan seseorang secara ekonomi. Maksudnya disini adalah apakah karena harga CD dan kaset non-lokal yang tinggi (akibat segala macam biaya tek - tek bengek di berbagai pihak), atau sistem negeri ini yang semakin hari semakin menekan warganya hingga semakin susah mencari sesuap nasi yang membuat kemampuan manusia secara ekonomis dan skala prioritasnya menurun terhadap pembelian rilisan fisik. Sehingga mungkin saja, masih ada penggemar musik di luar sana yang mengingkan untuk tetap membeli kaset, CD, vinyl, dan sebagainya, akan tetapi secara kemampuan ekonomi mereka terbatas. Sehingga, salah satu cara paling aman dan praktis untuk memperoleh musik adalah dengan men-download di internet seperti tadi. Jangan salah, saya juga termasuk salah satu yang bisa dimasukkan ke dalam kategori ini. Karena saya bukanlah orang yang memiliki uang bejibun dan tidak habis - habis untuk membeli CD. Saya juga memiliki berbagai kebutuhan hidup lainnya. Tetapi, dengan uang yang saya simpan saya berusaha untuk tetap mengikuti dan membeli rilisan - rilisan dalam bentuk fisik. Bukan karena saya harus dan saya wajibkan bagi diri saya, tetapi karena saya sangat menyukai mengumpulkan dan mengkoleksi CD, kaset, dan vinyl. Ada sebuah unsur fun dan passion bagi saya di dalamnya. Mungkin ini bisa dikatakan sebagai hobi saya. Pernah saya tidak makan di kampus untuk sekian waktu hanya untuk menabung dan membeli berbagai CD di akhir bulan. Ya, memang harus ada pengorbanannya. Tapi, toh setelah itu kepuasan yang didapatkan.
Melihat berbagai kepunahan sejumlah sarana distribusi musik yang ada secara nyata di tanah air, belakangan ini saya beruntung menemukan berbagai distributor yang bergerak di dunia maya menawarkan penjualan rilisan fisik seperti CD, kaset, dan vinyl ---- yang belakangan ini mulai kembali berkembang ----, dimana cara distribusinya adalah melalu pemesanan via internet dan penyaluran melalui mail order. Kepada mereka saya ucapkan terima kasih. Karena sedikit demi sedikit, mereka telah menyelamatkan berbagai artefak yang amat berharga. Memang merupakan kegiatan yang agak berbeda seperti biasanya, dimana kita mengobrak - abrik rak CD mencari - cari rilisan yang kita cari di dalam sebuah toko CD atau kaset, disini kita mengobrak - abriknya menggunakan mouse di dalam katalog online.
Ya, mungkin inilah yang disebutkan bahwa zaman dan kehidupan selalu mengalami perubahan. Tetapi, buat apa mengikuti zaman kalau zamannya juga tidak berpihak pada kita? Boleh saja zaman sekarang tetap berubah dan berlangsung, tetapi toh saya juga bisa tetap menjadi diri sendiri dan tidak terpaku dengan perubahan yang berlawanan dengan ideologi saya. Seperti seorang teman yang pernah berkata pada saya, "buat apa menjadi boneka orang lain, kalau kita bisa jadi dalang buat diri kita sendiri?" Mungkin kalau saya pribadi mengintrepretasikannya seperti, ya tidak harus kita mengikuti kemauan dan regulasi pihak lain, karena kita bisa mencinptakan dan menemukan dunia kita sendiri. "Pasar bisa diciptakan," kalau kata Efek Rumah Kaca.
Saya selalu bermimpi dan berfantasi dimana di setiap sudut kota mempunyai sebuah record store yang memuat berbagai rilisan lokal maupun internasional. Dimana ribuan vinyl dari 7" hingga LP menghuni di dalamnya. Dan, menghabiskan waktu di dalam toko itu bisa berjam - jam tanpa disadari. Berjam - jam hanya menikmati berbagai album. Ada sebuah kenikmatan tersendiri bagi saya untuk hal seperti itu. Mencari apa yang sedang diburu, mencoba album - album yang belom pernah didengar, dan tentunya menikmati artwork yang eklusif dan unik setiap albumnya. Dengan demikian mendengarkan musik tidak sebatas mendengarkan file mp3 melalui speaker laptop saja, tetapi sebuah experience yang nilainya tidak ada tandingannya. Mungkin impian saya terlalu muluk, but hey ini lebih baik ini daripada mondar - mandir di dalam mall tanpa tujuan yang jelas.
Currently listening :
Earth - Earth 2 : Special Low Frequency Version
Buayasumur.




























here comes the latest post!!
ReplyDeletebeen too long.
"Dan, perasaan yang timbul setelah membeli CD atau kaset pertama-mu di toko adalah sesuatu yang tak terlupakan, tidak sabar untuk sampai rumah dan memutarnya berulang - ulang. Hingga pola ini berlanjut hingga pembelian - pembelian selanjutnya." what a word!!!
iya banget ballll!!
apalagi pas jaman kaset, kalo mau dengerin lagu yang disuka harus susah2 dulu di rewind hahah. nungguinnya itu looh. trs kalo misalnya mau nyanyi tp belom apal, ada sesuatu yang klasik dari baca lirik di sampul cover yg dilipet. aaah kangen cekali.
gue sedih juga walaupun ga punya memory satupun sama aquarius pondok indah. tp waktu music store di jalan sabang tutup, gue sedih, karna duluuu, gue sama bokap gue sering kesana buat cari2 cd.
menjelajah rak2 dari rak paling atas sampe paling bawah, trs ngebalik cdnya buat liat list2 lagunya, so sweet bangettt!
udh gt tokonya 3 lantai pula, gue bisa abis ber jam2 kalo udh disitu.
gue jd curcol nih bal! emg sedih sih! u are such a master at words, both written in english or bahasa! touchy tp ga menye2!
i like this post!
tebak2 gue siapaaa ahaha
iya bal gue juga turut sedih sih toko musik pada tutup, tapi sebetulnya gue juga membantu mereka gulung tikar dengan selalu donlot album jarang beli -__-
ReplyDelete@anonimus
ReplyDeleteHalo, Anonimus. Saya gak tau kamu siapa, tapi terima kasih sudah mau membaca dan mengkomentari blog saya.
Iya benar sekali, jaman kaset kita harus susah2 rewind ampe pitanya nyaris usang, lalu kalo tidak dapat pada tempat lagu yang diinginkan harus rewind lagi ato fast forward. Memang tidak se-praktis sekarang ya, tapi memang justru disitu serunya. Dan karena itu mendengarkan musiknya dan kenang2an jadi lebih lengket sampai sekarang.
Tapi kaset sepengetahuan saya belom mati kok, seengaknya masih ada yang mengkoleksi kaset dan gak capek2 ngerewind - rewind. Yap, membaca lirik sambil ngedengerin kaset kayak yang kamu bilang itu sungguh nikmat. Ibarat menikmati film, tetapi visualisasi nya dengan imajinasi dan persepsi kita masing - masing. Jadi gak ada batas tertentu dalam mencernanya. Dan keduanya saling melengkapi, ibarat roti dan selai lah kalo perumpamaan elitnya. Hehe. Tanpa salah satunya terasa ada kekosongan. Iya gak sih? Tapi kadang ada juga yang gak ngasih semua liriknya di dalam sleeve mereka. Mungkin itu cara dan kebijakan tiap - tiap artis dalam produksi mereka.
Wow. Kenangan yang indah dan seru banget antara kamu dan ayah kamu. Iya pasti kalo sudah di dalam toko seperti itu, persis yang kayak kamu bilang, bisa habis berjam - jam. Dan, sampai gak sadar hingga lupa waktu. Padahal kadang2 yang dibeli cuma 1 atau 2 cd atau kaset saja, tetapi ngiler2 ama cd ato kaset yang lain bisa gak terhitung. Perbandingan yang dibeli ama yang dimupeng-mupengin sangat gak seimbang (itu sih kalo saya, kalo kamu saya gak tau begitu juga apa tidak hehe).
Gak papa kamu curcol. Saya juga barusan curcol ko. Jadi impas kan. Terima kasih ya apresiasinya. Tapi kalo disuruh nebak kamu siapa, saya gak bisa. Tapi dugaan saya sih mungkin kamu berjenis kelamin perempuan ya? Keliatannya sih dari cara kamu menyampaikan kata - kata. Apa kamu pacar salah satu teman dekat saya? Hehe. Anyway, Terimaksih atas komentarnya. Salam.
@KevinAditya
ReplyDeleteHalo, Kang Monoplane! Kumaha? Damang disana? Hehe. Gak papalah, Kang Monoplane. Kita kan belom punya penghasilan tetap. Kalo sudah kaya raya baru kita borong cd, kaset, dan piringan2 dimana - mana. Kalo perlu kita dirikan recordstore bareng nanti! Hehe. Terimakasih atas komentarnya, Kang! Ditunggu post2 Monoplane berikutnya. Salam.
baru baca gue bal. nice post gan dan dirgahayu untukmu bal
ReplyDelete